Feeds:
Pos
Komentar


“Jelajah Nusantara 2 KDGI”

Lokasi: Karawang, Tegal, Solo, Tawangmangu, Cemoro Sewu, Kediri, Malang, Bromo, Denpasar, Pantai Pandawa, Uluwatu, Tanah Lot, Kebumen

30 September – 10 Oktober 2016

Fotografer: Anton


Bro n Sist…

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan menceritakan Driving Review Datsun Go yang kebetulan saya kendarai berbarengan dengan tim Jelajah Nusantara KDGI mulai dari Solo sampai kediri dan kembali lagi ke Solo.

Dikesempatan tersebut saya mengendarai Datsun Go keluaran tahun 2015 milik om Yamato KDGI Solo dengan kondisi hampir 100% standar, hanya ada beberapa sentuhan modifikasi penampilan dan aksesoris. Bahkan velg dan ban masih menggunakan ring 13 dengan profil ban 155/70-13.

Rute yang saya tempuh menggunakan Datsun Go adalah Solo – Tawangmangu- Sarangan- Magetan- Maospati- Ponorogo- Trenggalek- Tulungagung- Wates- Pare – Kediri- Nganjuk- Madiun- Maospati- Magetan- Sarangan- Tawangmangu- Solo. Bagi Bro n Sist yang sering luntang-lantung, pasti tahu betul kondisi jalur yang saya lewati tersebut sangat bervariasi. Mulai dari jalan datar yang lurus, tanjakan curam dan berkelok, hingga kemacetan kota, serta jalanan rusak, semuanya ada di jalur tersebut. 

Bagaimana rasanya naik Datgo? Berikut ini ulasannya.

Fitur 

City car 5 seater keluaran Datsun ini terkesan simple dan minimalis namun fungsional. Fitur standar yang disematkan berupa AC single blower, audio single DIN, power window untuk jendela depan. 

Namun demikian, panel instrumen Datgo ini tergolong cukup lengkap. Mulai dari speedometer analog, tacho meter digital, indikator bbm digital, trip meter, fuel consumption dll dapat dipantau melalui panel instrumen ini. Hanya saja, bagi saya yang terbiasa dengan jarum tacho meter analog, tacho meter digital di Datgo ini terlalu kecil dan kurang jelas jika hanya dilirik sekilas.

Kenyamanan ruang kabin

Ruang kabin mobil ini cukup nyaman untuk di row 1, sedangkan di row 2, untuk postur saya (174cm) sepertinya harus berkompromi dengan penumpang row 1. Artinya, jika ingin nyaman, maka jok depan harus dimajukan.

Hembusan AC di mobil ini lebih dari cukup untuk mendinginkan seluruh ruang kabin. Adem benerr..

Mengenai kenyamanan ruang kabin, ada dua hal yang menjadi catatan saya. 

Pertama, ruang kabin kurang kedap. Suara bising dari luar terdengar sampai kedalam. Begitu juga suara hujan. Untuk yang satu ini teman-teman komunitas sudah mempunyai solusi dengan memasang peredam aspal, peredam body dan pkafon.

Kedua, bagi saya (subjektif) jok Datgo ini kurang nyaman. Selain jok nya yang kurang tebal, head rest pun tidak bisa diatur naik turun. Bahkan head rest jok baris kedua terlalu rendah sehingga tidak bisa digunakan untuk sandaran kepala untuk orang dewasa dengan postur tinggi.

Driving Position

Mobil ini menawarkan driving position yang cukup nyaman dan bisa diatur sesuai keinginan mulai dari maju mundur jok, tegak dan rebah sandaran jok dengan cara manual. Over all Driving position cukup nyaman, dengan visibilitas yang cukup baik. 

Performa

Menggunakan mesin 1200cc 3 silinder lungsuran dari Nissan March, mobil ini memiliki torsi yang cukup besar. Dengan bobot yang ringan, hentakan mesin 1200cc sangat terasa saat mobil diajak berakselerasi. Di tangan driver yang tepat, mobil ini dapat melesat kencang dalam waktu singkat.

Saya katakan “di tangan driver yang tepat” karena karakter mesin Datgo ini agak unik. Grafik torsi terasa landai dan kurang bertenaga di rpm rendah, kemudian melesat tajam setelah melewati 2000 rpm. Maka dari itu, bagi driver pemula, kemungkinan besar akan menganggap Datgo susah berakselerasi. Pada kenyataannya, dengan menggantung throttle diatas 2000 rpm, Datgo siap diajak bermain-main. Akselerasinya benar-benar nendang untuk kelas 1200 cc.

Sponsor

Ada satu catatan saya di sektor ini. Perbandingan Rasio gigi 1 dengan gigi 2 terlalu jauh. Gigi 2 menurut saya terlalu berat. Sehingga saat menanjak di kecepatan rendah, harus menurunkan ke gigi 1, saat diturunkan, mobil langsung melonjak karena rpm cukup tinggi dan torsi mesin yang galak.
Handling dan Suspensi

Jujur, handling mobil ini melebihi ekspektasi saya. Seolah mewarisi karakter mobil-mobil Nissan, handling Datgo lebih baik dibanding Agya/Ayla, Xenia/Avanza apalagi Panther. Mobil ini cukup stabil di kecepatan tinggi, dan masih cukup presisi untuk menikung. Gejala limbung terasa sangat minim.

Untuk redaman suspensi pun mobil ini cukup nyaman. Lebih empuk dibanding Avanza dan Rush, sedikit lebih keras dibanding Grand Livina. Cukup nyaman.

Traksi dan Pengereman

Traksi ban yang kurang mencengkram menjadi PR berikutnya dari mobil ini. Walaupun sebetulnya untuk penggunaan yang kalem, masih sangat mumpuni. Saya sempat mengalami slip di roda belakang saat bermanuver menikung di kecepatan tinggi di daerah Sarangan dengan kondisi basah. Sedangkan saat menyetir tidak agresif, traksi ban standar bawaan Datgo ini masih cukup baik, bahkan di kondisi hujan.

Mengganti ban dengan profil yang lebih lebar adalah keputusan yang bijak untuk mobil ini.

Pengereman mobil ini mewarisi ciri khas Nissan, tidak mengagetkan seperti Daihatsu, tetapi cukup pakem dan presisi.

Konsumsi BBM

Jujur, saya sendiri tidak melakukan pengukuran konsumsi BBM di mobil ini. Hanya saja, salah satu peserta rombongan JN2 yaitu om Anton melakukan pengukuran konsumsi BBM Datsun Go+ (3 baris) dan mendapatkan hasil sekitar 14 km/liter untuk rute luar kota dengan muatan full.

Kesimpulan

Dengan harga beli yang cukup terjangkau, mobil ini layak menjadi pilihan bagi keluarga kecil yang membutuhkan mobil untuk aktifitas sehari-hari dan tidak mau pusing dengan urusan perawatan mobil second. Kenyamanan suspensi dan handling ala Nissan serta performa mesin menjadi keunggulan yang menonjol mobil ini dibanding kompetitor. 

Dengan torsi yang melimpah serta handling yang presisi dan mantap, mobil ini sangat asyik untuk dibawa agresif. Tentunya dengan catatan ban diganti dengan profil lebih lebar.

Adapun beberapa catatan kekurangan mobil ini, semestinya menjadi masukan untuk PT. NMI dalam mengembangkan Datsun generasi berikutnya.

Pros:

(+) Mesin bertenaga

(+) Handling mantap

(+) Suspensi nyaman

(+) Desain modern (selera)

(+) Radius putar cukup baik

Cons:

(-) Peredaman kabin kurang

(-) Jok kurang nyaman

(-) Traksi ban kurang mencengkram

Silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Beberapa saat ini perwakilan Komunitas Datsun Go/Go+ Indonesia (KDGI) sedang menyelesaikan etape terakhir rangkaian perjalanan bertajuk “Jelajah Nusantara 2”. Dimulai pada tanggal 30 September lalu, tim JN2 KDGI sudah mengarungi beberapa kota di Jawa dan Bali dengan menggunakan 4 mobil Datsun Go+. 

Pembuktian ketangguhan Datsun Go+

Dalam perjalanannya, tim JN2 ini melewati rute:

Jakarta – Karawang – Solo – Tulungagung – Kediri – Malang – Bromo – Banyuwangi – Denpasar – Bedugul – Nusa 2 – Tanah lot – Malang – Jakarta.

Dengan rute tersebut, sudah tentu tim JN2 melewati berbagai macam medan diantaranya:

Jalur cepat jalan tol

Jalur curam pegunungan

Jalur pedesaan semi off road

Jalur kemacetan kota besar

Dll.

Disini akan dibuktikan seberapa tangguh Datsun Go+.

Saya sendiri turut serta dalam perjalanan ini di etape 1 dan 2 yaitu dari Cikarang – Solo – Tulungagung – Kediri. Saya mencoba duduk sebagai penumpang di etape pertama dan sebagai driver di etape kedua. Mengenai driving review Datsun, akan saya tulis lain kesempatan.
Zero Trouble

Hingga saat ini saya masih memonitor tim JN2. Dengan perjalanan yang panjang melintasi berbagai medan serta muatan yang penuh, Datsun Go+ tim JN2 tidak mengalami kendala. 
Independent dan Swadaya

Salah besar jika Bro n Sist menganggap bahwa perjalanan JN2 ini adalah bagian dari promosi Datsun. Perjalanan ini murni swadaya dari peserta JN2 yang didukung oleh Q Autoparts dan KEN Filter sebagai penyedia Filter AC Premium yang dipasang di keempat mobil tim JN2.

Mempererat silaturrahmi

Selain refreshing dan berpetualang, perjalanan ini pun ditujukan untuk mempererat silaturrahmi sesama pengguna datsun khususnya member KDGI yang berada di kota-kota yang dilewati.

Silahkan disimak…

Di Cemoro Sewu. Magetan – Jatim

Menghadiri acara 1st Anniversary KDGI AG Raya

Istirahat di SPBU Muri. Tegal – Jateng

Disambut KDGI Denpasar. Bali

Di Tawangmangu. Karanganyar – Jateng

Silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Sekitar setahun yang lalu saya pernah menuliskan tentang Honda PCX 150 VS Yamaha Nmax 155. Secara garis besar, PCX unggul di built quality dan kenyamanan sedangkan Nmax unggul di harga dan performa.

Kali ini saya coba sharing pengalaman saya menggunakan Honda PCX 150 ini untuk aktifitas sehari-hari dengan rute jalur Cikarang – Tambelang- Tambun utara- Grama puri dan sekitarnya. Kondisi jalanan disini didominasi jalan beton yang dipenuhi handicap berupa kemacetan, beton retak, beton naik dan turun tiba-tiba, polisi tidur level 12 dan sebagainya. Silahkan disimak review berikut ini…

Suspensi empuk

Sudah bukan rahasia bahwa Honda PCX ini memiliki suspensi yang empuk. Redaman suspensi PCX ini terasa nyaman untuk melibas jalanan kabupaten Bekasi ini. Berbagai handicap yang saya sebutkan diatas itu bukan masalah serius jika menggunakan PCX.

Jok nyaman

Jok PCX 150 ini sudah didesain nyaman dari sananya tanpa perlu dirombak atau dimodifikasi. Selain busanya yang tebal dan empuk, cover jok yang lentur ukurannya yang lega serta bentuknya yang mengikuti kontur maaf “pantat” menjadikannya benar-benar nyaman diduduki.

Bagasi Luas

Bagasi PCX yang luas sangat membantu untuk menyimpan barang bawaan yang menunjang aktifitas sehari-hari.

Riding Position Relaks

Salah satu keunggulan motor matic bongsor (bukan hanya PCX) dibandingkan motor sport, bebek, atau matic kecil adalah riding position yang relaks. Posisi stang yang cukup dekat dan tinggi membuat badan lebih tegak. Dek pijakan kaki pun cukup luas dengan dua pilihan posisi kaki, ditekuk atau dijulurkan ke depan.

Konsumsi BBM Irit

Setahun yang lalu saya menghitung konsumsi BBM PCX untuk rute jalur pantura Cikarang – Cirebon dengan kecepatan sering menyentuh 90-100 km/jam, hasilnya adalah 40km/liter pertamax. Anehnya, saat dipakai santai harian dengan kondisi jalan yang bervariasi dengan kecepatan maksimal 60 km/jam, PCX ini justru lebih irit. Konsumsi BBM bisa mencapai 48 km/liter pertamax.

Kelemahan PCX 150 tidak berpengaruh untuk harian.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Honda PCX 150 bagi saya memiliki beberapa kelemahan. Top speed yang mentok di angka 105 km/jam, suspensi yang mengayun di kecepatan tinggi, pengereman yang kurang baik di kecepatan tinggi, serta handling yang kurang presisi di kecepatan tinggi. Kelemahan-kelemahan tersebut tentunya sangat mengganggu jika PCX digunakan untuk touring high speed. Namun untuk aktifitas harian, rasanya tidak berpengaruh sama sekali. 

Reliable

Harus saya akui bahwa motor bebek dan matic honda memiliki reabilitas yang baik. Tidak terkecuali PCX 150 ini. Bandel dan awet. 

Kesimpulan

Diluar harga beli nya yang cukup (terlalu) tinggi, Honda PCX 150 adalah motor terbaik untuk aktifitas harian. Sedangkan untuk touring jarak jauh, tanpa ragu saya lebih merekomendasikan…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bajaj Pulsar 220.

Bro n Sist, silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Foto diatas saya dapat dari FB nya mas Huda. Menurut beliau, dari group Viar V Series. Sepertinya Viar mulai menggarap update versi terbaru dari V Series ini. Yang menarik adalah desain calon Viar V3 ini sekilas sangat mirip dengan Yamaha X-Max 250 yang telah lama beredar di daratan eropa sana. 

Memang belum ada kepastian tentang rencana Viar mengadopsi desain mirip Yamaha X-Max 250 ini. Namun jika menilik model Viar V1 yang sangat mirip dengan Yamaha Majesty 250, rasanya hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Tarik ulur Yamaha

Sejak awal 2015 sosok Yamaha X-Max 250 sudah tertangkap kamera di daerah Karawang, bersamaan dengan N-Max 155 pada waktu itu. Jika N-Max langsung dirilis 2 bulan berikutnya, lain halnya dengan X-Max 250 yang hingga saat ini masih sebatas rencana. YIMM seolah maju mundur untuk merilis motor ini.

Tidak terpengaruh, tapi tidak lucu

Kalaupun Viar V3 yang serupa X-Max 250 meluncur duluan ke pasar sepeda motor Indonesia, sejatinya tidak akan berpengaruh terhadap kesuksesan Yamaha X-Max 250 nantinya. Namun jika itu terjadi akan ada kesan Yamaha mengikuti Viar. Apalagi beredar kabar bahwa Viar akan menggunakan mesin 350cc. Tidak lucu kan?

Silahkan dikomentari…
Foto 1 : FB Huda Elmarhoum


Bro n Sist…

Konon sebagian besar pemilik mobil saat ini belum mengetahui keberadaan filter AC (filter kabin) mobil. Sebagian kecil lainnya sudah tahu tentang adanya filter AC, tapi menganggap bahwa memasang filter AC adalah sia-sia. Apa betul begitu?

Saya coba menyadur penjelasan dari Precision Auto Reapai Inc Kanada Tentang fungsi filter udara AC pada mobil. Begini penjelasannya:

Sebuah filter udara AC (kabin) membersihkan udara luar sebelum masuk ke dalam kompartemen penumpang. Filter AC ini menyaring partikel udara seperti debu, serbuk sari, spora, bakteri, polutan, gas buang, bau dan bahkan bulu-bulu unggas. filter berteknologi tinggi ini dapat memblokir partikel yang lebih besar dari 3 mikron. Sebagai gambaran, sebutir debu pasir memiliki ukuran sekitar 200 mikron. 

Penggantian filter AC Avanza/ Xenia/ Agya/ Ayla/ New Sirion

Tidak semua kendaraan di Indonesia memiliki filter AC (filter udara kabin). Sekitar 70 puluh persen kendaraan baru yang dijual di Indonesia sudah dilengkapi dengan filter AC, tetapi jumlah ini berkembang setiap tahun. filter AC dapat membuat lingkungan mengemudi sangat bagus. Mobil Anda dapat menjadi surga selama musim alergi di Indonesia karena sangat sedikit debu dan serbuk sari masuk ke kabin. 

Namun, jika terlalu lama dibiarkan, filter akhirnya tersumbat. Ketika ini terjadi, aliran pendingin udara Anda bisa menjadi terbatas. Filter bahkan bisa mendatangkan bau. Periksalah buku manual pemilik kendaraan Anda untuk mengetahui interval penggantian filter AC yang direkomendasikan. Kenyataannya, seringkali buku pedoman pemilik kendaraan lupa mencantumkan tentang filter udara kabin, sehingga anda perlu meminta teknisi untuk rekomendasinya. Filter AC ini biasanya harus diganti setiap tahun atau 19.000 kilometer. Anda harus menggantinya lebih cepat jika Anda mengemudi dalam kondisi berdebu seperti di sekitar wilayah Jabodetabek atau kota-kota besar di Indonesia, atau jika Anda mulai mencium bau dari AC Anda. 

Jadi menjaga filter AC Anda bersih mungkin tidak membantu mempererat hubungan anda dengan kakak ipar Anda yang duduk di kursi belakang, tapi itu akan membuat pengalaman berkendara Anda keliling kota menjadi lebih menyenangkan. 

Begitu kira-kira penjelasan dari Precision Auto Repair Inc. Bagaimana menurut Bro n Sist? Apakah memasang dan mengganti filter AC adalah kegiatan sia-sia?
Silahkan dikomentari…

Foto: Datsun.com

Sumber artikel: Precision Auto Repair Inc.


Bro n Sist…

Tak terasa si Biru yang berisik itu sudah menemani kami sekeluarga selama hampir satu tahun. Mobil low profil ini sangat setia menemani kami kesana-kemari, Jogja – Tangerang – Cirebon- Cikarang- Ngawi- Kudus- Salatiga semuanya dilalui tanpa kendala dan tanpa menguras kantong. Sekarang saatnya saya coba sharing pengalaman memelihara mobil ini selama satu tahun pertama. Silahkan disimak…

Bandel dan minim perawatan

Terjawab sudah pertanyaan dalam hati saya, kenapa mobil brisik dan polusi ini harga sekennya cukup tinggi. Ternyata kata kuncinya adalah “Bandel”. Saking bandelnya, biaya perawatan mobil ini menjadi sangat murah. Perawatan rutin yang saya lakukan di mobil ini :

Lanjut Baca »


Bro n Sist…

Saat ini mobil-mobil keluaran terbaru makin bervariasi, mulai dari LCGC dengan harga 100 jutaan, Low MPV dengan harga 200 jutaan sampai Sedan mewah dengan harga diatas 1 Milyar. Dengan harga mobil baru yang terus merangkak naik, mobil second semakin menarik untuk dipertimbangkan. Contohnya Toyota Fortuner tahun 2008 dengan harga pasaran sekitar 200 juta atau setara dengan harga Low MPV 1500 cc terbaru.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjajal SUV Toyota ini dengan rute Cikarang- Ciater PP via Klari, Tol Cikampek, Tol Cipali, Subang, dengan muatan isi 6 orang dewasa dan satu orang anak usia 3 tahun. Toyota Fortuner yang saya gunakan adalah tipe G dengan mesin 2700cc bensin BBM pertamax, transmisi Automatic 5 speed (Non CVT). Berikut ini ulasannya:

Fitur 

SUV keluaran tahun 2008 ini memiliki fitur yang tergolong lengkap. Mulai dari rem ABS, Airbag, AC digital double blower, double DIN touchscreen audio video dilengkapi dengan pengaturan pada roda kemudi. Interior mobil ini terkesan mewah dan elegan dengan aksen warna beggie dan beberapa wood panel, meskipun dasboard dan doortrim masih menggunakan plastik dan belum dilapisi kulit. Mobil ini juga sudah dilengkapi Digital Fuel consumption indicator.

Kenyamanan ruang kabin

Ruang kabin mobil ini cukup nyaman baik di row 1, row 2 maupun row 3. Semuanya lega. Row 2 dan row 3 pun masih dapat merasakan hembusan AC berkat double blowernya. Dan yang paling istimewa dari mobil ini adalah kesenyapan ruang kabinnya. Ruangkabin mobil ini begitu senyap seperti mobil eropa.

Driving Position
Mobil ini menawarkan driving position yang cukup nyaman dan bisa diatur sesuai keinginan mulai dari maju mundur jok, tegak dan rebah sandaran jok, dan naik turun stir. Hanya saja semua pengaturan masih dengan cara manual, tidak seperti BMW 530i 1994 Individual yang saya review beberapa waktu lalu yang sudah full electric. Over all Driving position cukup nyaman, dengan visibilitas yang cukup. Hanya saja untuk driver pemula, perlu sedikit penyesuaian karena mobil ini cukup tinggi dan panjang.

Performa
Biarpur kapasitas mesinnya mendekati 3.000 cc, tapi mobil ini masih menggunakan konfigurasi 4 silinder inline sebagaimana mobil-mobil kapasitas 1300 – 2000 cc. Jumlah silinder yang sedikit tentunya memiliki keuntungan Torsi yang melimpah di putaran rendah. Benar saja, cukup tekan pedal gas sedikit, tidak sampai 2000rpm mobil ini langsung ngacir.

iklan-filter-ac-fortuner

Untuk menekan konsumsi BBM Toyota memanfaatkan karakter mesin Fortuner yang torque ini dengan memasang rasio transmisi yang tinggi (berat), sehingga di jalan datar, mobil ini dapat melaju hingga kencang tanpa lebih dari 2500 rpm. Alhasil, konsumsi BBM bisa lumayan irit meskipun mesin CC besar dan transmisi matic.
Rasio yang berat tentunya mengurangi kemampuan berakselerasi, juga kemampuan menanjak. Untuk ukuran 2.700cc akselerasi mobil matic ini bagi saya cukup responsif tapi tidak terlalu istimewa. Mungkin versi manual akan jauh lebih baik.

Kemampuan mendaki dari mobil ini pun bagi saya tidak begitu istimewa, dengan penumpang 6 orang dewasa dan 1 orang anak, mobil ini terasa berat saat mendaki jalur Ciater, sampai-sampai Ford Fiesta di belakang kami tidak sabar menunggu dan langsung overtake begitu ada kesempatan.

Handling dan Suspensi

Jujur, handling mobil ini melebihi ekspektasi saya. Mobil setinggi ini ternyata memiliki handling yang cukup baik. Jauh lebih baik dibanding avanza yang tidak terlalu tinggi apalagi Panther. Mobil ini sangat stabil di kecepatan tinggi, dan masih cukup presisi untuk menikung. Gejala limbung terasa sangat minim. Ternyata mobil tinggi belum tentu limbung.

Untuk redaman suspensi pun mobil ini cukup nyaman. Lebih empuk dibanding Avanza dan Rush, sedikit lebih keras dibanding Grand Livina. Cukup nyaman. Selain redaman yang cukup empuk, suspensi mobil ini pun terasa kokoh tanpa bunyi-bunyian meskipun sudah berumur 8 tahun.

Traksi dan Pengereman

Kebetulan ban mobil ini sudah diganti dengan Bridgestone Dueller AT (all terrain) yang secara teori memiliki kemampuan on road dan off road sama baiknya. Kemampuan on road ban jenis ini tentu tidak sebaik ban standar jalanan atau pun ban jenis HT (higway terrain). Namun ternyata setelah saya coba, traksi ban ini masih cukup baik di jalan aspal maupun jalan beton bahkan di kondisi basah sekalipun. Beberapa kali saya harus melakulan pengereman mendadak di kondisi basah, mobil ini masih bisa dikendalikan dengan baik. Tentunya berkat peran dari rem ABS. Untuk traksi dan pengereman mobil ini bagi saya cukup baik.

Konsumsi BBM

Dengan rute perjalanan Cikarang- Ciater PP, macet di daerah Subang – Jalan cagak, penumpang 6 orang dewasa + satu orang anak, Konsumsi BBM mobil ini 8 km per liter. 

Kesimpulan

Dengan mesin yang besar dan kapasitas penumpang yang banyak, mobil ini sangat cocok bagi anda yang gemar berpetualang bersama keluarga. Ground clearance nya yang tinggi membuat anda bebas kemana saja tanpa khawatir.

Dibalik kesan gagah dan tegas, ternyata Fortuner masih sangat nyaman untuk dikendarai. Hanya saja, untuk urusan performa sepertinya transmisi manual menjadi pilihan yang lebih menarik dan fungsional.

Pros:

(+) Ruang kabin nyaman

(+) Fitur cukup lengkap

(+) Handling dan suspensi cukup baik

(+) Gagah dan siap diajak kemana saja

Cons:

(-) Akselerasi dan kemampuan mendaki biasa saja

(-) Radius putar kurang

(-) Body terlalu besar dan panjang, susah parkir
Silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Foto diatas saya ambil sekitar 20 menit yang lalu di SPBU Tambelang kabupaten Bekasi. 

Sangat mengejutkan ketika saya akan mengisi BBM Panther di SPBU ini, ternyata Bio Solar sudah berganti dengan Dexlite, tentunya dengan harga yang berbeda. Dexlite ini 27% lebih mahal dibanding Bio Solar. Dua puluh tujuh persen!! Atau senilai Rp. 1.400 per liter. Jika Bio Solar dibanderol Rp. 5.150 per liter, maka Dexlite ini harus dibayar dengan Rp. 6.550 per liter.

Di jalur sepanjang 20 km ini, yaitu jalur dari Warung Satu menuju Pisangan Bekasi via Tambelang- Gabus, terdapat dua SPBU yaitu SPBU Tambelang dan SPBU Gabus. SPBU Gabus sudah terlebih dahulu menghilangkan Bio Solar dari daftar BBM yang dijual, maka dari itu, satu-satunya SPBU yang menyediakan Bio Solar di Jalur ini adalah SPBU Tambelang. Sangat disayangkan, saat ini SPBU Tambelang pun menghilangkan Bio Solar. 

Sebagai Informasi, kendaraan diesel yang melewati jalur ini didominasi oleh Truk pengangkut padi, pengangkut sembako, pengangkut tanah dan bahan bangunan. Sisanya, Panther tua, Kijang tua, Kuda tua. 

Pertanyaannya adalah,

Ini ada apa?

Bagaimana ketersediaan Bio Solar di daerah lain?

Apakah BBM bersubsidi khususnya Bio Solar bakal dilenyapkan dari muka bumi Indonesia?

Silahkan dikomentari…