Feeds:
Pos
Komentar

Bro n Sist…

Foto diatas adalah interior BMW tua kami yaitu E34 M60 Individual tahun 1994. BMW E34 Individual yang dijual di Indonesia, keseluruhannya ber transmisi otomatis alias Matic. Sebagai pengendara yang “sedikit agresif”, baru kali ini saya mau dan sudi memiliki mobil matic. Tentunya setelah “dijebak” dengan test drive oleh pemilik sebelumnya. Hehehe…

Sebagaimana kita ketahui, hal yang paling melekat dengan “BMW” adalah teknologinya yang advance dan driving quality yang menyenangkan. Tidak terkecuali dengan mobil Matic BMW. 

Sebelumnya, bagi saya, mobil matic hanya menawarkan kenyamanan namun mengabaikan hal lain, bahkan cenderung membosankan. Tapi ternyata tidak dengan BMW. Ada dua perbedaan signifikan yang membuat saya tetap Excited dengan matic nya BMW:

Sport mode yang agresif

Matic BMW e34 menawarkan mode A (auto) dan mode S (sport) hanya dengan menggeser selector yang ada di sisi kanan tuas persneling. Mode A menawarkan sensasi yang nyaman, sama seperti mobil matic pada umumnya. Shifting gear alias perpindahan gigi terjadi di 2000 – 2500 rpm. Hasilnya, mobil terasa smooth dan cukup hemat BBM.

Mode  S menawarkan sensasi sporty dan agresif. Shifting terjadi di 4000 – 4500 rpm. Bisa dibayangkan, dengan mesin 3.000 cc V8, sensasi jambakan akselerasi diatas 3.000 rpm terasa begitu dahsyat. Tidak heran jika Pada saat itu BMW mengklaim bahwa hanya butuh 7.1 detik untuk berakselerasi 0 – 100 km/jam.

Tetap mengutamakan safety 

Salah satu yg paling krusial dari transmisi matic adalah minimnya “engine brake” alias pengereman mesin. Saat beban berkurang, semua transmisi matic akan otomatis shifting ke gigi lebih tinggi. Begitu juga di kondisi jalan menurun. Untuk mendapatkan engine brake yang cukup, driver harus menggeser tuas persneling ke posisi L1 atau L2 untuk membatasi transmisi matic agar tidak shifting ke gigi tinggi.

Sama dengan mobil matic lainnya, di BMW seri 5 tahun 94 ini pun disediakan posisi tuas di 2, 3, 4 untuk membatasi transmisi matic. BEDANYA, tanpa menggeser tuas ke posisi 2 3 4 alias tetap di posisi “D” pun, saat driver menginjak rem lebih dari sekian detik, maka transmisi menangkap sinyal bahwa mobil butuh engine brake dan secara otomatis akan melakukan shifting ke gigi rendah untuk mendapatkan “Engine Brake”. Hal ini tidak saya temukan di Toyota Fortuner 2008.

Yes, I like it!

BMW Matic? Why Not?

#TheUltimateDrivingMachine


Bro n Sist,

Ditengah dahsyatnya pemasaran LCGC, KIA New Picanto masih mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia lantaran konsumsi bbm nya yang irit, juga kualitas materialnya yang diatas LCGC. Salah satunya milik mas Herry dari Gejayan Jogja ini.

Problem yang terjadi di mobil mas Herry ini adalah hembusan udara AC yang kurang kencang seperti tertahan. Setelah browsing sana-sini, mas Herry memutuskan untuk menyambangi Jogja Auto Filter di daerah Ringroad Selatan Tamanan Jogja untuk mengganti filter kabin. Setelah dibongkar, benar saja, filter kabin bawaan New Picanto terlihat sudah sangat kotor dan mulai tersumbat oleh debu yang menumpuk. Berikut ini penampakan filter kabin New Picanto yang telah lama terpasang:

Penggantian filter kabin New Picanto ini ternyata cukup mudah dan bisa dilakukan sendiri, bahkan tanpa menggunakan alat. Berikut ini cara mengganti filter kabin (filter ac) Kia New Picanto:

  1. Buka laci dasbor sebelah kiri. Jangan lupa keluarkan semua barang-barang dari laci.
  2. Lepaskan pin penahan laci yang ada di sisi kiri dan kanan. (Lihat gambar).
  3. Setelah pin terlepas, laci dapat diturunkan maksimal sehingga box filter kabin terlihat dan mudah dijangkau.
  4. Lepaskan penutup filter kabin.
  5. Keluarkan filter kabin yang lama.
  6. Masukkan filter kabin yang baru.
  7. Tutup kembali seperti semula.
  8. Selesai.

Test, nyalakan AC, hembusan udara AC pun kembali kencang seperti baru dan udara AC kembali bersih dan segar.

Harga filter kabin KIA Picanto ini ternyata cukup murah Bro n Sist, hanya Rp. 65.000 saja.

Bisa dibeli di 

Jogja Auto Filter

Jl. Ringroad Selatan Rejokusuman no. 04, Tamanan, Banguntapan – D.I. Yogyakarta.

Untuk luar area jogja bisa pesan di:

0812 9021 1515
Silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Buat kalian para pemilik Vario 125 alias WTF, tentunya sangat akrab dengan gejala ndregdeg alias gemetar di area CVT. Saya sendiri sebagai pemilik WTF, bahkan sempat punya dua WTF, sudah tidak heran dengan bergetar/ gemetarnya CVT. Gejala ini terjadi saat CVT sudah mulai kotor. 

Ada beberapa metode untuk menghilangkan getaran di CVT ini. Mulai dari yang paling sederhana yaitu membersihkan CVT dengan menyemprotkan udara kompresor, sampai memodifikasi kopling ganda, entah itu dipantek atau diapakan lagi, saya sendiri kurang paham.

Saya pribadi biasanya meminta mekanik bengkel untuk membersihkan CVT setiap ganti oli (2000 km). Hanya saja, belakangan ini gejala gemetar mulai terjadi lagi sebelum 2000 km. Cukup risih juga. Karena penasaran dan ingin tuntas, WTF pun saya bawa ke WARNA MOTOR Jalan Godean Km. 9 untuk diservis CVTnya.

Menurut mekanik WARNA Motor, CVT si WTF ini mulai kekeringan dan harus dilumasi ulang. Akhirnya CVT dibongkar total mulai dari pulley, roller, drive belt, kopling ganda bearing, spring dan bushingnya. Pokoknya semuanya dibongkar. Part-part tersebut dibersihkan. Setelah itu, bagian-bagian yang perlu dilumasi, diolesi dengan grease. Kebetulan di bengkel ini sedia Grease khusus CVT dari Yamaha (Thanks Yamaha) yang dikhususkan untuk melumasi komponen CVT. 

Setelah selesai dilumasi, semua komponen dirakit kembali. Test nyala, getaran cinta eh gejala gemetar di Area CVT hilang total. Performa CVT honda Vario 125 saya kembali seperti baru berkat Grease dari YAMAHA.

Test jalan, wush… Gak nyangka, CVT yang kurang responsif selama ini hanya karena kurang pelumasan.

Cukup dengan Rp. 30.000, Vario 125 kembali ngacir.

Thanks WARNA MOTOR.

Buat Bro n Sist yang domisili Jogja, bisa mampir ke bengkel ini, alamatnya di 

Jl. Godean Km. 9, seberang RM Sambal Layah.

Kalau mampir kesini jangan lupa sekalian ganti kampas rem cakram dengan merek YAMAGATA. Top..

Silahkan dikomentari…


img_4195.jpg

Bro n Sist…

Genap 5 bulan saya memelihara BMW merah ini. Mobil Eropa pertama yang menemani perjalan kami menyusuri indahnya Indonesia.

Bagi saya, BMW bukan srkedar mobil eropa layaknya Mercy, Volvo, Audy dsb. BMW memiliki nilai history tersendiri karena 17 tahun yang lalu, BMW khususnya yang bermesin V8 ini sempat saya idam-idamkan hingga terbawa mimpi. Alhamdulillah, walaupun terlambat, akhirnya kesampean juga memilikinya, merasakan sensasi juga aromanya yang khas.

Sebelum lanjut ke review, bagi Bro n Sist yg belum tahu, saya jelaskan lagi tentang BMW E34 530i Individual.

E34 menunjukkan kode body BMW seri 5 tahun 1988 – 1996. Ciri khasnya masih menggunakan dua pasang lampu depan bulat.

530i artinya BMW seri 5 dengan kubikasi mesin 3.000 cc. Untuk body E34, mesin 3.000cc yang disematkan adalah mesin dengan kode M60 yaitu mesin dengan konfigurasi V 8 silinder DOHC 32 valve.

Individual seri spesial edition untuk BMW dengan beberapa perbedaan dibanding seri non Individual, diantaranya electric seat, coolbox, krey elektrik dll.

Lanjut ke review kepemilikan BMW usia 22 tahun ini:

Fun & Nyaman

Biarpun tidak begitu agresif, e34 530i ini masih cukup mengasyikkan untuk bermain-main. Cukup geser selector transmisi matic ke mode “S” (sport), mobil dengan body cukup bongsor ini siap melesat kencang dalam hitungan detik.

Di sisi lain, kenyamanan suspensi dan kabin mobil ini sangat memanjakan kami betah berada di dalamnya. Suspensi yang lembut membuat mobil ini minim guncangan. Kabin yang super kedap, hanya menyisakan suara deru mesin V8 yang memacu adrenalin. Saking kedapnya, saya pernah hampir tertimpa palang pintu kereta api yang sudah mulai turun, akibat tidak mendengar suaranya.

Tampil Beda

Di Jogja, BMW E34 ini jumlahnya tidak sampai 30 unit. E34 530i tidak sampai 10 unit, dan E34 530i Individual sementara ini hanya ada SATU. Alhasil, mobil tua dengan warna menyala ini kerap mencuri perhatian pengguna jalan. Hehehe

3 Kali Mogok

Sebagai pemula yang baru pertama kali memelihara BMW, saya sempat bingung saat pertama kali mengalami mogok. Alhasil, saya hanya menurut saat mekanik storing memvonis sensor crank shaft rusak. Diganti sepasang Rp. 800.000.

Setelah satu bulan keluar bengkel cat, mobil saya mogok lagi, ternyata masalahnya masih sama, busi selalu basah, dan penyebabnya hanya gara-gara relay ECU yang mulai lengket sehingga ON terus. Cukup dibersihkan oleh om Prayit Mandiri Motor Sport BSD, mesin pun normal kembali. Bahkan untuk kasus ini jasa perbaikan digratiskan karena sekalian servis & ganti oli. Thanks om Prayit..

Tiga hari setelahnya, mobil saya bawa dari Cikarang menuju Jogja via Pantura. Mobil kembali mogok tengah malam di daerah Kaliwungu Kendal. Saya cek box sikring, ternyata sikring fuel pump putus. Setelah saya ganti baru, langsung putus lagi. Dengan bantuan om  Kipu BMWCCI Semarang Chapter, akhirnya mobil saya normal kembali. Ternyata problemnya hanya karena konslet di konektor fuelpump.

Setelah kejadian itu, BMW saya tidak pernah mogok lagi, bahkan dibawa keluar kota, dan pulang tengah malam berani melewati jalur Randu dongkal- Purbalingga – Sempor- Gombong yang sangat sepi.

Problem AC 

Saya mengalami dua kali problem AC. Yang pertama, AC tidak bisa menyala sama sekali. Setelah dicek oleh mas Oni Kandang BMW Godean, ternyata hanya masalah dudukan sikring yang meleleh akibat tidak kuat menahan arus terlalu besar. Oleh mas Oni dibuatkan dua jalur pararel sehingga arus menjadi lebih kecil. AC pun normal kembali dengan biaya Rp. 100.000 saja

Yang kedua, kejadian baru dua minggu yang lalu, AC tidak dingin. Blower hanya menghembuskan angin. Setelah dicek oleh mas Oni, ternyata pulley compressor sudah menipis sehingga jarak magnet AC menjadi jauh. Hal ini bisa diatasi dengan mengurangi ring spacer puli. Kebetulan masih ada 3 ring. Jika sudah habis maka puli wajib diganti. AC pun normal kembali dengan biaya “seikhlasnya”.

Kebocoran Power Steering & Power Brake

Di BMW 530i ini power steering menyatu dengan power brake (booster rem). Saya pernah mengalami kebocoran di selang high pressure. Gejalanya, saat pedal rem diinjak, ada suara mendengung dan pedal terasa bergetar. Saya langsung menebak ada kebocoran di power brake karena ada tetesan di garasi. Benar saja, setelah dicek, minyak power steering/ power brake tinggal setengah. Solusinya, crimping ulang selang high pressure. Pengerjaan oleh mas Danang Kandang BMW Godean.

Kasus asap knalpot bau bensin

Awal November lalu, asap knalpot BMW saya terasa pedih di mata dan bau bensin menyengat. Saya curiga ada gangguan di MAF (Mass Air Flowmeter). Setelah discan di Wisan Motor, ternyata MAF normal. Hanya saja, ada dua Coil yang mati. Sempat heran juga, dua coil mati tetapi mobil masih bisa menyala bahkan sanggup melaju kencang. Ck..ck..ck..

Accident di jalur Deandels

Di perjalanan berangkat ke Bekasi, saya mengalami accident yaitu bumper belakang menyenggol bus. Akibatnya bumper pecah. Syukur Alhamdulillah mobil tidak oleng. Bahkan anak saya yang tidur di dalam mobil pun tidak sempat bangun.

Sekarang mobil saya sedang proses pengerjaan penggantian bumper satu set depan & belakang menggunakan Hartge body kit. Pengerjaan oleh mas Dimas Condong Catur.

Kesimpulan

  1. BMW 530i Individual menyajikan kenyamanan dan Driving Quality yang luar biasa yang jauh melebihi ekspektasi saya terhadap sebuah mobil. Tidak seperti sebelumnya yang lebih terasa menjiwai jika naik Roda dua, BMW ini mampu menggerakkan jiwa kami turut serta dalam setiap perjalanan.
  2. Saya tidak mengikuti anjuran para senior BMW untuk men servis total BMW saat baru menerimanya. Akibatnya terjadi beberapa problem yang sebenarnya sepele tetapi malah merepotkan.
  3. BMW sangat cocok untuk Automotive Enthusias yang sensitif terhadap detail kualitas berkendara. Anda akan sangat ketagihan. Sebaliknya, sangat tidak cocok untuk orang-orang yang hanya membutuhkan sarana pengangkut penumpang yang murah dan efisien.
  4. BMW merusak selera berkendara saya terhadap mobil.
  5. Terakhir, We Love BMW.

Bro n Sist…

Foto diatas hanya sebagai ilustrasi, karena pada saat sy riding jarak jauh menggunakan Honda Verza ini tidak sempat berfoto-foto.

Bulan Januari lalu, untuk pertama kalinya pasca operasi tulang selangka, saya riding jarak jauh lagi (bukan touring sih.. Hehehe) yaitu dari Bekasi (Sukatani) menuju Jogja dengan rute:

Sukatani – Cikarang – Cirebon – Brebes – Tegal – Slawi – Randu Dongkal – Purbalingga – Sempor – Gombong – Petanahan – Jalur deandels – Bantul – Banguntapan.

Saya sengaja memilih rute tersebut untuk menghindari hancurnya jalur Pantura dan Bobroknya jalur Bumiayu. Alhamdulillah, dari Slawi sampai Jogja melalui rute tersebut kondisi jalan cukup baik. 

Bagaimana review Honda verza untuk perjalanan jarak jauh? Silahkan disimak…

Riding Position Nyaman

Honda Verza yang saya bawa ini kebetulan sudah ganti stang menggunakan stang Fat bar dengan ketinggian stang tidak jauh berbeda dibanding stang bawaan, namun lebih lebar. Riding position motor ini bagi saya terasa cukup nyaman. Posisi badan cukup tegak sehingga tidak mudah mudah lelah untuk perjalanan jarak jauh.
Handling Stabil

Walaupun jarak sumbu roda tidak terlalu panjang, Honda Verza ini memiliki stabilitas Handling yang cukup baik. Di kecepatan 90 kpj, motor masih anteng sehingga tidak perlu effort yang besar untuk mengendalikan motor ini. Saya bisa lebih relax. Tidak se anteng Pulsar, tapi mendekati. Jauh lebih anteng dibanding Scorpio saya kemarin.

Mesin Adem

Buat saya, ini adalah salah satu keistimewaan Honda Verza. Meski cukup lama digeber dengan putaran tinggi, engine Honda Verza ini tidak mengalami gejala overheat. Lebih adem dibanding Pulsar apalagi Scorpio. False neutral (susah menetralkan gigi) layaknya Pulsar, Scorpio, Hyosung Comet / Kawasaki ER6 tidak terjadi di Honda Versa. Ini menandakan bahwa temperatur oli mesin stabil sehingga tidak terjadi pemuaian kampas kopling.

Under Power
Power Honda Verza yang hanya 13.xx HP memang terasa sangat kurang untuk perjalanan jauh terutama di Jalur Pantura yang sepi. Di kecepatan 90 km/jam mesin motor ini sudah berteriak dan mulai kehabisan nafas. Untuk mencapai 100 km/jam butuh perjuangan dan kesabaran serta harus tega dengan jeritan mesin yang mulai meronta. 

Khusus urusan speed, sepertinya naik motor ini harus benar-bebar sabar dan mau menerima kenyataan jika di Pantura tidak bisa mengejar Matic & Bebek 125cc.

Torsi Mumpuni
Lain halnya dengan powernya yang kurang, torsi motor ini menurut saya lebih dari cukup. Melibas tanjakan di jalur Slawi – Purbalingga dapat dilakukan dengan mudah. Enteng saja. Di kesempatan ini Honda Verza terasa mengasyikkan.

Jok Lebar dan Nyaman
Jok Honda Verza memang tidak empuk, namun dengan desainnya yang lebar dan fit di “maaf” pantat, membuat terasa nyaman bahkan untuk perjalanan jauh.

Konsumsi BBM irit

Untuk perjalanan kemarin saya sempat mengukur konsumsi BBM motor ini. Yaitu 9.85 liter untuk 405 km. Artinya konsumsi bbm sekitar 41 km/liter dengan cara riding seenaknya. Cukup irit. Sebagai perbandingan, Vario 125 saya digeber kecepatan tinggi untuk touring Bali Lombok mencatatkan konsumsi bbm 38 km/liter.

Suspensi Cukup Nyaman

Diluar dugaan, suspensi motor ini cukup nyaman. Tidak se lembut dan senyaman Pulsar, tapi masih lebih nyaman dibanding Scorpio saya. Sedang-sedang saja. 

Manuver Kurang Presisi

Salah satu yang perlu diwaspadai dari motor ini yaitu kemampuannya untuk bermanuver. Masih kurang presisi alias sedikit membuang. Setidaknya busa diminimalisir dengan mengurangi kecepatan saat hendak bermanuver di tikungan tajam.

Kesimpulan

Worthed

Butuh upgrade performa

Pilihan tepat untuk berhemat

Menjawab kebutuhan 😄😄.
Bro n Sist, silahkan dikomentari…


 

pantai-pandawa-1

Bro n Sist..

Melanjutkan cerita yang tertunda, sebelum menguap ditelan waktu, saya coba menuliskannya di blog tercinta ini. Ini adalah hari ke 4 perjalanan kami menyusuri alam Indonesia kilometer demi kilometer dengan menggunakan roda dua. Di harike empat ini kami fokus mengunjungi tempat-tempat eksotis di Bali yang belum sempat kami kunjungi di perjalanan 2011 lalu.

Rute perjalanan day 4

Rute perjalanan day 4

Lanjut Baca »


Bro n Sist…

Barang kecil yang tidak ada harganya ini ternyata memiliki fungsi yang sangat penting. Saya sendiri selama ini sering meremehkan yang namanya tutup pentil. Jarang sekali saya memperhatikan tutup pentil di ban motor ataupun mobil saya. Kalau ada ya dipasang, kalau gak ada ya biarkan saja.

Hari ini (telat) saya baru menyadari pentingnya tutup pentil, setelah ban belakang motor saya selalu kempes dan terjadi kebocoran di pentil. Biasanya, kalau terjadi seperti itu, saya ambil jalan pintas, ganti pentil dan beres. Tapi hari ini saya penasaran, coba mengakali pentil yang bocor tadi dengan cara menusuk-nusuk ujungnya menggunakan kunci L paling kecil. Ternyata setelah ditusuk-tusuk beberapa kali, pentil yang tadinya bocor kembali rapat. Setelah dianalisa, kebocoran pentil terjadi karena ada pasir/ kotoran yang mengganjal. Tentu saja akibat dari tidak adanya tutup pentil.

Beruntung kebocoran terjadi di rumah. Bagaimana kalau terjadi saat perjalanan jauh di tengah hutan? Tentunya akan sangat merepotkan. Apalagi jika terjadi saat kendaraan melaju kencang di Jalan tol, Sangat berbahaya..!!

Bro n Sist, mulai sekarang, periksa ban motor dan ban mobil masing-masing, apakah tutup pentil sudah terpasang lengkap?

Silahkan dikomentari…



Bro n Sist…

Tidak terasa Vario 125 (wtf) warna merah sudah berumur tiga tahun. Ini adalah pertama kali saya punya motor sampai tiga tahun. Sebelumnya, bahkan sampai sekarang, motor saya paling lama hanya bertahan 1.5 tahun sudah dijual, entah karena bosan atau memang tertarik motor yang lain. Terakhir, baru saja saya menjual Yamaha Scorpio yang belum genap satu tahun menginap di garasi saya.

So, WTF merah ini adalah reccord motor yang bertahan paling lama di garasi saya. Hehehe…
Selama tiga tahun ini, WTF baru menempuh jarak sejauh 21.900 Km. Di tahun ketiga ini jarak tempuh WTF saya relatif sama dengan tahun kedua, yaitu sekitar 8.500 km. Ini sudah termasuk perjalanan touring Jawa – Bali – Lombok sejauh 2.000 km ++.

WTF dipakai harian & touring

Di tahun ketiga ini, WTF dua kali saya pakai untuk touring. Yang pertama adalah touring ke Pantai Menganti Kebumen (200 km ++), yang kedua adalah Touring Jogja – Bali – lombok PP (2.000 km ++), Khusus mengenai review WTF yang dipakai untuk touring, saya sudah pernah buat tulisannya disini…

Modifikasi

Jika di tahun pertama WTF langsung saya modif dengan mengganti Velg, ban dan pemasangan box, di tahun kedua saya modifikasi jok WTF jadi lebih tebal, lebih lebar dan lebih empuk. Di tahun ketiga, bisa dikatakan saya tidak memodifikasi apapun. Saya sempat memasang windshield lebar di WTF ini, namun dipasang hanya sebatas untuk keperluan touring Bali Lombok. Setelah selesai touring, windshield tersebut kembali saya lepas.

Perawatan mudah

Kalau dibanding beberapa motor yang pernah saya punya, bisa dibilang WTF ini perawatannya paling mudah. Cukup ganti oli tiap 2000 km, bersihkan CVT, ganti oli transmisi, cek kampas rem. Itu saja. Part fast moving yang sudah pernah ganti hanya ban, filter udara dan kampas rem depan belakang. Sedangkan part slow moving yang udah pernah ganti, yaitu kom stir dan belt CVT komplit dengan rollernya.

Penggantian part di tahun ke 3

Di tahun ketiga ini WTF mengalami beberapa penggantian part yaitu:

Ban depan, Federal 90/90-14 diganti dengan Corsa platinum R99 80/80-14

Ban belakang, FDR Sport Evo 110/80-14 diganti dengan Corsa Platinum R26 100/80-14

Kampas rem belakang

Belt CVT satu set dengan roller.

Praktis & fungsional

WTF ini sangat praktis. Dipake jarak dekat oke, dipakai jarak jauh pun cukup mumpuni, terlebih dengan menggunakan velg tapak lebar, handling WTF saya terasa lebih stabil jika dibanding WTF standar.

Selain praktis juga fungsional. Bagasi cukup luas, ditambah box belakang 33 liter, sangat membantu saya untuk kirim-kirim barang ke jne, tiki, wahana dll pesanan tokopedia.

Motor pasaran

Ini yang kurang menarik dari WTF. Motor ini pasaran !!. Mulai dari ABG sampai bapak kepala sekolah, banyak yang pakai motor ini.

Suspensi Belakang Keras

Pernah suatu hari saya naik Gojek, dapat motornya Suzuki Skydrive. Setelah turun dari Gojek, selama beberapa hari saya merasa ill feel dengan suspensi WTF yang keras dan sangat kurang nyaman jika dibandingkan dengan Suzuki Skydrive milik abang Gojek.

Kesimpulan

– WTF itu simpel

– WTF itu biasa saja

– WTF itu cukup worth

– Kepingin Skydrive 😄

– …
Bro n Sist, silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Honda BRV ini memang keren, tampilan macho, interior mewah, dan konsumsi BBMnya irit. Tak heran jika mobil ini laris manis.

Di balik tampang kerennya itu ternyata ada satu yang kurang, mobil ini belum dilengkapi filter kabin (filter AC). Oleh sebab itu, udara AC bebas bersirkulasi melewati blower, evaporator, kisi-kisi AC dan ruang kabin tanpa ada penyaringan. Artinya, debu, kotoran, bakteri dan sebagainya dibiarkan berkeliaran begitu saja mengotori blower, menyumbat evaporator dan terhisap paru-paru adek kecil yang ikut jalan-jalan bareng BRV. Hiii.. Seremm..

Buat para pengguna BRV yang ingin AC mobilnya lebih bersih dan lebih segar seperti Honda Jazz keatas dan MPV merek sebelah, mudah saja, tinggal pasang filter AC after market beserta tutup (cover) box filternya. Banyak dijual di kota-kota besar. Atau hubungi saya, hehehe..

BRV ini sebetulnya sudah dilengkapi box filter AC, hanya saja dalamnya kosong dan tutupnya mati alias tidak bisa dibuka. Makanya jika ingin memasang filter AC, harus dibuatkan lubang menggunakan cutter.

Lebih jelasnya, silahkan simak langkah-langkah berikut ini.

1. Lepaskan laci dasbor (glove box) di depan penumpang depan jok sebelah kiri.


2. Buat lubang di box filter AC dengan menggunakan cutter, mengikuti alur yang sudah ada.


3. Ini penampakan box filter AC yang sudah dilubangi.


4. Masukkan filter AC kedalam box. Untuk filter merek KEN, dipasang melintang. Perhatikan tanda panah “flow” di bagian samping filter, pastikan tanda panah mengarah ke bawah sesuai aliran udara AC yang dihisap blower.


5. Pasangkan cover filter AC sampai bunyi “klik”. 

Nah… Bro n Sist, mudah kan?

Silahkan dikomentari dan dibagikan…
Butuh filter AC mobil? Silahkan kunjungi Jogja Filter AC