Feeds:
Pos
Komentar

Bro n Sist…

Foto diatas saya dapat dari FB nya mas Huda. Menurut beliau, dari group Viar V Series. Sepertinya Viar mulai menggarap update versi terbaru dari V Series ini. Yang menarik adalah desain calon Viar V3 ini sekilas sangat mirip dengan Yamaha X-Max 250 yang telah lama beredar di daratan eropa sana. 

Memang belum ada kepastian tentang rencana Viar mengadopsi desain mirip Yamaha X-Max 250 ini. Namun jika menilik model Viar V1 yang sangat mirip dengan Yamaha Majesty 250, rasanya hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Tarik ulur Yamaha

Sejak awal 2015 sosok Yamaha X-Max 250 sudah tertangkap kamera di daerah Karawang, bersamaan dengan N-Max 155 pada waktu itu. Jika N-Max langsung dirilis 2 bulan berikutnya, lain halnya dengan X-Max 250 yang hingga saat ini masih sebatas rencana. YIMM seolah maju mundur untuk merilis motor ini.

Tidak terpengaruh, tapi tidak lucu

Kalaupun Viar V3 yang serupa X-Max 250 meluncur duluan ke pasar sepeda motor Indonesia, sejatinya tidak akan berpengaruh terhadap kesuksesan Yamaha X-Max 250 nantinya. Namun jika itu terjadi akan ada kesan Yamaha mengikuti Viar. Apalagi beredar kabar bahwa Viar akan menggunakan mesin 350cc. Tidak lucu kan?

Silahkan dikomentari…
Foto 1 : FB Huda Elmarhoum


Bro n Sist…

Konon sebagian besar pemilik mobil saat ini belum mengetahui keberadaan filter AC (filter kabin) mobil. Sebagian kecil lainnya sudah tahu tentang adanya filter AC, tapi menganggap bahwa memasang filter AC adalah sia-sia. Apa betul begitu?

Saya coba menyadur penjelasan dari Precision Auto Reapai Inc Kanada Tentang fungsi filter udara AC pada mobil. Begini penjelasannya:

Sebuah filter udara AC (kabin) membersihkan udara luar sebelum masuk ke dalam kompartemen penumpang. Filter AC ini menyaring partikel udara seperti debu, serbuk sari, spora, bakteri, polutan, gas buang, bau dan bahkan bulu-bulu unggas. filter berteknologi tinggi ini dapat memblokir partikel yang lebih besar dari 3 mikron. Sebagai gambaran, sebutir debu pasir memiliki ukuran sekitar 200 mikron. 

Penggantian filter AC Avanza/ Xenia/ Agya/ Ayla/ New Sirion

Tidak semua kendaraan di Indonesia memiliki filter AC (filter udara kabin). Sekitar 70 puluh persen kendaraan baru yang dijual di Indonesia sudah dilengkapi dengan filter AC, tetapi jumlah ini berkembang setiap tahun. filter AC dapat membuat lingkungan mengemudi sangat bagus. Mobil Anda dapat menjadi surga selama musim alergi di Indonesia karena sangat sedikit debu dan serbuk sari masuk ke kabin. 

Namun, jika terlalu lama dibiarkan, filter akhirnya tersumbat. Ketika ini terjadi, aliran pendingin udara Anda bisa menjadi terbatas. Filter bahkan bisa mendatangkan bau. Periksalah buku manual pemilik kendaraan Anda untuk mengetahui interval penggantian filter AC yang direkomendasikan. Kenyataannya, seringkali buku pedoman pemilik kendaraan lupa mencantumkan tentang filter udara kabin, sehingga anda perlu meminta teknisi untuk rekomendasinya. Filter AC ini biasanya harus diganti setiap tahun atau 19.000 kilometer. Anda harus menggantinya lebih cepat jika Anda mengemudi dalam kondisi berdebu seperti di sekitar wilayah Jabodetabek atau kota-kota besar di Indonesia, atau jika Anda mulai mencium bau dari AC Anda. 

Jadi menjaga filter AC Anda bersih mungkin tidak membantu mempererat hubungan anda dengan kakak ipar Anda yang duduk di kursi belakang, tapi itu akan membuat pengalaman berkendara Anda keliling kota menjadi lebih menyenangkan. 

Begitu kira-kira penjelasan dari Precision Auto Repair Inc. Bagaimana menurut Bro n Sist? Apakah memasang dan mengganti filter AC adalah kegiatan sia-sia?
Silahkan dikomentari…

Foto: Datsun.com

Sumber artikel: Precision Auto Repair Inc.


Bro n Sist…

Tak terasa si Biru yang berisik itu sudah menemani kami sekeluarga selama hampir satu tahun. Mobil low profil ini sangat setia menemani kami kesana-kemari, Jogja – Tangerang – Cirebon- Cikarang- Ngawi- Kudus- Salatiga semuanya dilalui tanpa kendala dan tanpa menguras kantong. Sekarang saatnya saya coba sharing pengalaman memelihara mobil ini selama satu tahun pertama. Silahkan disimak…

Bandel dan minim perawatan

Terjawab sudah pertanyaan dalam hati saya, kenapa mobil brisik dan polusi ini harga sekennya cukup tinggi. Ternyata kata kuncinya adalah “Bandel”. Saking bandelnya, biaya perawatan mobil ini menjadi sangat murah. Perawatan rutin yang saya lakukan di mobil ini :

Lanjut Baca »


Bro n Sist…

Saat ini mobil-mobil keluaran terbaru makin bervariasi, mulai dari LCGC dengan harga 100 jutaan, Low MPV dengan harga 200 jutaan sampai Sedan mewah dengan harga diatas 1 Milyar. Dengan harga mobil baru yang terus merangkak naik, mobil second semakin menarik untuk dipertimbangkan. Contohnya Toyota Fortuner tahun 2008 dengan harga pasaran sekitar 200 juta atau setara dengan harga Low MPV 1500 cc terbaru.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjajal SUV Toyota ini dengan rute Cikarang- Ciater PP via Klari, Tol Cikampek, Tol Cipali, Subang, dengan muatan isi 6 orang dewasa dan satu orang anak usia 3 tahun. Toyota Fortuner yang saya gunakan adalah tipe G dengan mesin 2700cc bensin BBM pertamax, transmisi Automatic 5 speed (Non CVT). Berikut ini ulasannya:

Fitur 

SUV keluaran tahun 2008 ini memiliki fitur yang tergolong lengkap. Mulai dari rem ABS, Airbag, AC digital double blower, double DIN touchscreen audio video dilengkapi dengan pengaturan pada roda kemudi. Interior mobil ini terkesan mewah dan elegan dengan aksen warna beggie dan beberapa wood panel, meskipun dasboard dan doortrim masih menggunakan plastik dan belum dilapisi kulit. Mobil ini juga sudah dilengkapi Digital Fuel consumption indicator.

Kenyamanan ruang kabin

Ruang kabin mobil ini cukup nyaman baik di row 1, row 2 maupun row 3. Semuanya lega. Row 2 dan row 3 pun masih dapat merasakan hembusan AC berkat double blowernya. Dan yang paling istimewa dari mobil ini adalah kesenyapan ruang kabinnya. Ruangkabin mobil ini begitu senyap seperti mobil eropa.

Driving Position
Mobil ini menawarkan driving position yang cukup nyaman dan bisa diatur sesuai keinginan mulai dari maju mundur jok, tegak dan rebah sandaran jok, dan naik turun stir. Hanya saja semua pengaturan masih dengan cara manual, tidak seperti BMW 530i 1994 Individual yang saya review beberapa waktu lalu yang sudah full electric. Over all Driving position cukup nyaman, dengan visibilitas yang cukup. Hanya saja untuk driver pemula, perlu sedikit penyesuaian karena mobil ini cukup tinggi dan panjang.

Performa
Biarpur kapasitas mesinnya mendekati 3.000 cc, tapi mobil ini masih menggunakan konfigurasi 4 silinder inline sebagaimana mobil-mobil kapasitas 1300 – 2000 cc. Jumlah silinder yang sedikit tentunya memiliki keuntungan Torsi yang melimpah di putaran rendah. Benar saja, cukup tekan pedal gas sedikit, tidak sampai 2000rpm mobil ini langsung ngacir.

iklan-filter-ac-fortuner

Untuk menekan konsumsi BBM Toyota memanfaatkan karakter mesin Fortuner yang torque ini dengan memasang rasio transmisi yang tinggi (berat), sehingga di jalan datar, mobil ini dapat melaju hingga kencang tanpa lebih dari 2500 rpm. Alhasil, konsumsi BBM bisa lumayan irit meskipun mesin CC besar dan transmisi matic.
Rasio yang berat tentunya mengurangi kemampuan berakselerasi, juga kemampuan menanjak. Untuk ukuran 2.700cc akselerasi mobil matic ini bagi saya cukup responsif tapi tidak terlalu istimewa. Mungkin versi manual akan jauh lebih baik.

Kemampuan mendaki dari mobil ini pun bagi saya tidak begitu istimewa, dengan penumpang 6 orang dewasa dan 1 orang anak, mobil ini terasa berat saat mendaki jalur Ciater, sampai-sampai Ford Fiesta di belakang kami tidak sabar menunggu dan langsung overtake begitu ada kesempatan.

Handling dan Suspensi

Jujur, handling mobil ini melebihi ekspektasi saya. Mobil setinggi ini ternyata memiliki handling yang cukup baik. Jauh lebih baik dibanding avanza yang tidak terlalu tinggi apalagi Panther. Mobil ini sangat stabil di kecepatan tinggi, dan masih cukup presisi untuk menikung. Gejala limbung terasa sangat minim. Ternyata mobil tinggi belum tentu limbung.

Untuk redaman suspensi pun mobil ini cukup nyaman. Lebih empuk dibanding Avanza dan Rush, sedikit lebih keras dibanding Grand Livina. Cukup nyaman. Selain redaman yang cukup empuk, suspensi mobil ini pun terasa kokoh tanpa bunyi-bunyian meskipun sudah berumur 8 tahun.

Traksi dan Pengereman

Kebetulan ban mobil ini sudah diganti dengan Bridgestone Dueller AT (all terrain) yang secara teori memiliki kemampuan on road dan off road sama baiknya. Kemampuan on road ban jenis ini tentu tidak sebaik ban standar jalanan atau pun ban jenis HT (higway terrain). Namun ternyata setelah saya coba, traksi ban ini masih cukup baik di jalan aspal maupun jalan beton bahkan di kondisi basah sekalipun. Beberapa kali saya harus melakulan pengereman mendadak di kondisi basah, mobil ini masih bisa dikendalikan dengan baik. Tentunya berkat peran dari rem ABS. Untuk traksi dan pengereman mobil ini bagi saya cukup baik.

Konsumsi BBM

Dengan rute perjalanan Cikarang- Ciater PP, macet di daerah Subang – Jalan cagak, penumpang 6 orang dewasa + satu orang anak, Konsumsi BBM mobil ini 8 km per liter. 

Kesimpulan

Dengan mesin yang besar dan kapasitas penumpang yang banyak, mobil ini sangat cocok bagi anda yang gemar berpetualang bersama keluarga. Ground clearance nya yang tinggi membuat anda bebas kemana saja tanpa khawatir.

Dibalik kesan gagah dan tegas, ternyata Fortuner masih sangat nyaman untuk dikendarai. Hanya saja, untuk urusan performa sepertinya transmisi manual menjadi pilihan yang lebih menarik dan fungsional.

Pros:

(+) Ruang kabin nyaman

(+) Fitur cukup lengkap

(+) Handling dan suspensi cukup baik

(+) Gagah dan siap diajak kemana saja

Cons:

(-) Akselerasi dan kemampuan mendaki biasa saja

(-) Radius putar kurang

(-) Body terlalu besar dan panjang, susah parkir
Silahkan dikomentari…


Bro n Sist…

Foto diatas saya ambil sekitar 20 menit yang lalu di SPBU Tambelang kabupaten Bekasi. 

Sangat mengejutkan ketika saya akan mengisi BBM Panther di SPBU ini, ternyata Bio Solar sudah berganti dengan Dexlite, tentunya dengan harga yang berbeda. Dexlite ini 27% lebih mahal dibanding Bio Solar. Dua puluh tujuh persen!! Atau senilai Rp. 1.400 per liter. Jika Bio Solar dibanderol Rp. 5.150 per liter, maka Dexlite ini harus dibayar dengan Rp. 6.550 per liter.

Di jalur sepanjang 20 km ini, yaitu jalur dari Warung Satu menuju Pisangan Bekasi via Tambelang- Gabus, terdapat dua SPBU yaitu SPBU Tambelang dan SPBU Gabus. SPBU Gabus sudah terlebih dahulu menghilangkan Bio Solar dari daftar BBM yang dijual, maka dari itu, satu-satunya SPBU yang menyediakan Bio Solar di Jalur ini adalah SPBU Tambelang. Sangat disayangkan, saat ini SPBU Tambelang pun menghilangkan Bio Solar. 

Sebagai Informasi, kendaraan diesel yang melewati jalur ini didominasi oleh Truk pengangkut padi, pengangkut sembako, pengangkut tanah dan bahan bangunan. Sisanya, Panther tua, Kijang tua, Kuda tua. 

Pertanyaannya adalah,

Ini ada apa?

Bagaimana ketersediaan Bio Solar di daerah lain?

Apakah BBM bersubsidi khususnya Bio Solar bakal dilenyapkan dari muka bumi Indonesia?

Silahkan dikomentari…


Bro n Sist,

Lebih dari setahun lalu saya pernah nulis tentang prediksi harga Yamaha X-max 250 (klik disini…) . Sampai sekarang tulisan tersebut jadi top view di blog saya ini. Yaah… Untuk ukuran blog yang diupdate sesukanya, view diatas 45.000 untuk satu artikel terbilang langka. Satidaknya cukup mengindikasikan antusiasme pecinta roda dua tanah air terhadap motor ini.

Bikers tua malas menunduk

Matic bongsor sejatinya sangat dibutuhkan oleh pecinta roda dua yang sudah malas naik motor sport. Golongan urban kelas menengah dengan usia diatas 30 tahun yang suka naik motor, tentunya sudah gak mau lagi menunduk-nunduk ala Valentino Rossi. Kecuali sport rider sejati seperti om Leopold. Di sisi lain, mereka ini menginginkan kendaraan roda dua yang nyaman dengan performa tinggi, sekaligus praktis untuk menunjang aktifitas sehari-hari.

Pengganti Mobil

Selain para biker yang sudah enggan naik motor sport, skutik bongsor yang nyaman juga ditunggu-tunggu oleh para pengguna mobil yang mulai jenuh dengan padatnya lalulintas kota-kota besar. Skutik bongsor seperti X-max 250 ini bisa menjadi jawaban bagi para pekerja kantoran yang ingin beralih dari mobil ke motor yang nyaman dikendarai.
Momentum Tepat

Saat ini adalah saat yang tepat meluncurkan X-max 250. Saat market sudah teredukasi dan terbentuk dengan keberadaan Nmax, saat kompetitor masih berkutat dengan motor sport 250 yang trend nya mulai menurun, saat itulah X-Max kembali jadi first mover yang menggemukkan segmen skutik bongsor di negeri ini. 

Pioneer Skutik 250 belum terlalu kuat

Memang Yamaha X-max 250 bukan menjadi yang pertama di Indonesia. Sebelumnya sudah ada SYM Joymax dengan kualitas OK namun harga 60 jutaan. Ada juga Benelli Zafferano produksi China dengan harga 39 jutaan. Namun mereka masih belum kuat. Kehadiran Yamaha di segmen ini justru yang akan membuat booming skutik 250cc.  

Jangan sampai keduluan kompetitor

Ingat, spyshoot, bocoran dan wacana mengenai X-max 250 sudah muncul sejak tahun lalu. Bukan mustahil jika kompetitor, sebut saja AHM sudah menangkap sinyal serta mempelajari segmen ini. Semakin Yamaha menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta*lho?.. Semakin memberikan waktu yang cukup bagi kompetitor untuk melakukan counter attack.

Jangan jatuh di lubang yang sama

Orang beli skutik bongsor itu pastinya menginginkan kenyamanan. Jadi, jangan tonjolkan atau hilangkan sekalian jargon sport pada skutik bongsor. Buatlah motor dengan riding position dan suspensi sekali lagi suspensi yang nyaman. Tidak perlu dibuat keras dengan tujuan sporty.

Last,

Yamaha, please deh, buruan keluarin!!
Foto: Yamaha Eropa


Bro n Sist…

Setelah dapat unit BMW 530i Individual tahun 1994, mobil tersebut langsung saya bawa dari Yogyakarta ke Cikarang untuk direview. Berikut ini hasil review saya, silahkan disimak.

BMW 530i Individual E34M60. 3.000cc V8 32 valve. Tahun 1994 (usia 22 tahun)

Rute: Jogja – Cikarang via Bumiayu

Kesan pertama



Mobil terasa bongsor, lebar dan panjang. Kabin lega dan mewah. Body e34 terlihat classic (jadul) dan berkarakter.

Fitur



ABS, air bag, electric seat, cool box, electric krey (rusak), electric mirror, dual mode untuk transmisi matic yaitu Auto (A) & Sport (S), instrumen cluster tergolong lengkap, sangat canggih pada jamannya, dll

Driving position



Driving position bisa diatur suka2 dengan pengaturan jok electric. Ada 4 axis pengaturan:

Maju mundur jok

Naik turun jok

Rebah tegak sandaran bahu

Naik turun sandaran kepala

Driving position terasa nyaman, visibilitas cukup baik, walaupun agak merepotkan bagi driver pemula. Kaca spion original BMW bagi saya terlalu datar (kurang cembung), akibatnya kendaraan di belakang terlihat sangat dekat. Perlu pembiasaan. Yg menarik, kaca spion ini anti silau.

Handling dan Suspensi



BMW e34 ini memiliki handling yg cukup baik, stabil di kecepatan tinggi, dengan body yg panjang dan lebar masih cukup mumpuni diajak menikung tajam, meskipun kalau dibandingkan dengan BMW seri 3 atau Mitsubishi Lancer, masih kalah presisi. Sedangkan untuk suspensi, e34 ini tergolong sangat nyaman. Suspensi empuk, tetapi tidak terasa mengayun. Bisa dibilang sektor kenyamanan suspensi inilah yg membuat e34 unggul telak dibanding e36 (seri 3).

Performa



Dengan engine 3.000 cc V8 DOHC 32 valve, mobil ini punya tenaga yang beringas mencapai 218HP. Sayangnya dengan konvigurasi V8, tenaga yg dahsyat baru terasa diatas 2500rpm, dibawah itu terasa biasa saja. 

Pada mode A, akselerasi mobil ini tidak terlalu istimewa untuk ukuran BMW, tapi pada mode S, sekali tancap gas dijamin badan langsung tersentak tertarik ke belakang. Sangat asyik untuk bermain2 menyalip di Tol, tinggal towel ke mode S, mobil serasa pakai NOS. Wuuush… Meskipun dengan konsekuensi konsumsi bbm yg sangat boros.

Traksi dan Pengereman


Traksi ban Bridgestone Turanza 225/60 -15 yang terpasang di velg 15″ standar BMW seri 5 ini tergolong cukup baik. Beberapa kali terpaksa melakukan hard braking, tidak ada gejala slip, bahkan di kondisi track basah. Hal ini tentunya juga berkat kinerja rem ABS dan power brake yang berfungsi dengan baik. 

Untuk mobil dengan bobot 1.6 ton transmisi matic, saya mengapresiasi kualitas pengereman mobil ini. Meskipun tidak sebaik seri 3 yang memiliki bobot lebih ringan.

Konsumsi BBM



Dengan cara driving masih sering lihat jarum “Fuel Consumption” (tujuan eco drive) tapi terkadang sering lupa, sering main-main dengan mode sport sampai 4500 rpm. Konsumsi BBM rata2 sekitar 7.5km/liter untuk perjalanan Jogja – Cikarang menggunakan Pertamax 92.

Kesimpulan



BMW e34 M60 Individual menawarkan kenyamanan yang baik dengan segudang fitur yg memanjakan tanpa menghilangkan karakter BMW di dalamnya. E34 cocok untuk perjalanan jauh bersama keluarga. Mobil dengan usia 22 tahun yang memiliki teknologi dan kenyamanan diatas rata-rata. Bahkan mobil tua ini masih terasa lebih nyaman dan lebih kencang jika dibandingkan mobil 300jutaan yang baru keluar dari dealer. Trust me!
Pros :

(+) Suspensi nyaman

(+) Kabin cukup luas

(+) Interior mewah dan kaya fitur

(+) Handling stabil di kecepatan tinggi
Cons

(-) Body bongsor, panjang dan lebar

(-) Kurang lincah dibanding seri 3

(-) Boros BBM

(-) Eksterior terkesan jadul
Bro n Sist, silahkan dikomentari…

Berburu BMW Tua


Bro n Sist…

Bulan september ini menjadi awal yang baru bagi saya karena kami sekeluarga akan melanjutkan petualangan berikutnya dengan kendaraan yang saya idam-idamkan selama bertahun-tahun yaitu sebuah BMW. Di blog tercinta ini, saya akan mendokumentasikan sekaligus berbagi cerita tentang BMW, siapa tahu bisa bermanfaat bagi Bro n Sist yang tertarik untuk memelihara the ultimate driving machine ini.

Babak pertama dimulai dengan mengumpulkan informasi mengenai BMW tua ini. Di era informasi seperti sekarang ini, asalkan mau, tidak akan kesulitan memperoleh infornasi yang kita perlukan, termasuk info tentang BMW tua. Mulai dari forum diskusi (semacam kaskus, seraya motor, modcom), group FB sampai blog yang mengulas tentang BMW tua ini dengan mudah kita temukan.

Mengumpulkan informasi ini sangat penting bagi saya untuk mengetahui suka duka, plus minus, serta kenikmatan dan resiko yang akan saya terima jika memelihara BMW tua.

Kenapa BMW tua?

 Sudah pasti jawabannya karena BMW muda masih diluar jangkauan. Namun kalau ditanya “kenapa BMW?” jawabannya karena saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan BMW sejak tahun 1999 lalu. Bukan cuma itu, BMW adalah mobil kedua yang saya kendarai dan sensasinya masih terasa setelah hampir 17 tahun berpisah. Sensasi yang luar biasa yang tidak saya temukan setelah beberapa kali bergonta-ganti mobil.

Memilih BMW

Dengan budget yang terbatas serta kebutuhan kabin yang luas, saya menjatuhkan pilihan pada BMW seri 5 E34 yang cukup populer di awal 90an. BMW dengan body E34 yang masuk ke Indonesia ternyata banyak macamnya:

535i E34M30 = 3500 cc dengan kode mesin M30, sistem injeksi masih menggunakan Jetronic

520i E34M20 = 2000cc 6 silinder inline dengan kode mesin M20, sistem injeksi masih menggunakan Jetronic dan menggunakan timing belt

518i E34M40 = 1800cc 4 silinder dengan kode mesin M40, masih menggunakan timing belt. Untuk body E34, tenaga mesin M40 ini dirasa sangat kurang.

520i E34M50 = 2000cc 6 silinder inline dengan kode mesin M50, sistem injeksi menggunakan Motronic (ECU) dan menggunakan timing chain.

520i E34M50TU = 2000cc 6 silinder inline dengan kode mesin M50TU, sistem injeksi menggunakan Motronic, mekanisme valve menggunakan timing chain dan dilengkapi dengan VANOS (semacam VVTi di toyota).

530i E34M60 = 3000cc 8 silinder V DOHC 32 valve dengan kode mesin M60. Sistem injeksi Motronic.

Diantara beberapa tipe BMW seri 5 e34 tersebut, 520i E34M50TU diklaim ketersediaan sparepart nya paling banyak, karena menggunakan mesin yang sama dengan adiknya yaitu BMW 320i E36 yang memiliki populasi sangat banyak.

Saya sendiri pada awalnya prefer untuk mendapatkan 520i M50TU. Namun takdir berkata lain, semua berubah saat saya test drive BMW 530i E34M60 3000cc V8 Individual. Seakan lupa dengan pakem konsumsi BBM dan ketersediaan sparepart. Sensasi kenyamanan seri Individual serta jambakan setan dari mode “Sport” di matic 3000cc ini benar-benar membuat saya terlena. Seperti terhipnotis, sekejap saya pun lupa dengan beberapa 520i yang saya datangi dan test drive sebelumnya. Bahkan saya lupa dengan standar pengecekan membeli mobil bekas. Pada akhirnya mobil pun mampir ke garasi ditebus dengan harga yang murah, namun memiliki beberapa PR yang tidak murah. 

Inilah badak merah penghuni garasi kami. BMW 530i E34 M60 B30 Individual. Seri Individual adalah seri dengan interior yang berbeda dengan seri standar. Dilengkapi dengan electric seat, electric krey, dan cool box (kulkas) menjadikan seri ini lebih mewah.

Tahapan berikutnya adalah restorasi agar bisa tampil seperti foto yang pertama. Hehehe…

Bro n Sist, silahkan dikomentari..


Masuk Bali

Bro n Sist…

Kelamaan disimpan, bukan berarti coretan perjalanan ini jadi basi. Biarpun udah gak fresh, saya coba lanjutin cerita perjalanan 8 hari solo touring pake Honda vario 125 di akhir Februari lalu. Tulisan kali ini berisi catatan-catatan perjalanan hari ketiga. Buat Bro n Sist yang mau tahu cerita sebelumnya, silahkan klik disini…

Silahkan disimak…

Lanjut Baca »


image

Bro n Sist…

Beberapa waktu lalu saya pernah posting mengenai Yamaha Scorpio 2005 second yang sekarang jadi tunggangan saya, lengkap dengan plus dan minusnya. Sekitar 3 bulan lalu, Scorpio 2005 mampir di garasi saya, menggantikan Kawasaki ER6n yang udah berubah jadi 4 roda.

Punya motor second dengan umur lebih dari 10 tahun itu ternyata seru juga. Dengan berbagai kekurangan yang ada, lahirlah kreatifitas untuk membenahi tunggangan jadi sesuai dengan riding style kita. Begitu juga Scorpio seken punya saya ini. Setelah tiga bulan diutak-atik sana-sini baru berasa enaknya. Dan disitulah benih-benih cinta mulai bersemi dan tumbuh. Jiaahh…. 😜 🙈 Lanjut Baca »